Wednesday, November 4, 2015

Hakikat Etika




Ketika mendengar kata etika, tentunnya pemikiran kita tertuju pada aturan, norma, dan nilai-nilai. Karena berhubungan dengan aturan dan nilai-nilai pembahasan tentang etika seringkali tidak menjadi pokok bahasan yang diminati. Aturan dilihat sebagai pembatas ruang lingkup dan kreatifitas. Di sisi lain aturan dan norma sering dipakai untuk memperkokoh jabatan atau kekuasaan yang telah ada atau demi kepentingan pribadi. Apa sebenarnyan yang menjadi fungsi dari kumpulan aturan, norma, dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia, apakah hanya sebatas mengharmoniskan hidup manusia?

Istilah Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos. Dalam arti yang paling  purba, ethos bermakna kandang tempat sapi atau kuda. Bagi binatang sapi atau kuda, kandang memberikan perlindungan dan keamanan.[1] Bangsa Yunani kuno adalah bangsa yang penuh dengan aturan dan adat istiadat. Adat istiadat tersebut dipahami selaras dengan kepercayaan agama. Adat dan kebiasaan yang berlaku tersebut kemudian melahirkan kemampuan pada diri seseorang untuk mengenal apa yang baik dan apa yang benar. Eka Darmaputra menjelaskan kesadaran ini sebagai kesadaran etis.[2] Dengan kesadaran etis ini diharapkan adat dan kebiasaan dapat berfungsi mendatangkan perlindungan dan keamanan manusia. Oleh karena itulah dalam perkembangan selanjutnya ethos dipakai untuk menunjuk pada aturan atau adat kebiasaan yang berlaku. Aristoteles seorang ahli filsafat Yunani menulis buku untuk anaknya tantang kaidah-kaidah dan perbuatan manusia, diberi judul Ethika Nikomacheia.[3]

Dalam perkembangan selanjutna terutama sejak abad ke 5 sM muncul aliran filsafat yang mulai mempertanyakan adat istiadat dan kebiasaan tersebut. Bagi para filsuf terkadang adat kebiasaan tersebut kurang rasional dan universal. Apa yang dianggap normal dan menjadi kebiasaan disuatu komunitas dapat saja dipahami berbeda oleh komunitas yang lain. Sesuatu yang dianggap baik tidak dapat generalisasikan penerapannya.

Gerakan ini membuat adat kebiasaan yang ada mulai dipertanyakan dan diuji dengan nilai-nilai yang lebih lebih rasional dan universal. Kesadaran etis dan adat istiadat, kebiasaan tersebut dibahas secara sadar, disusun secara teratur dan sistimatis. Perkembangan ini kemudian membuat kata etika dipahami sebagai penilaian normative terhadap tabiat dan tingkah laku manusia atau studi mengenai norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia. Hakikat dari penilaian normative tersebut bertujuan untuk melindungi kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

Dengan berkembangnya waktu, hingga sekarang kata etika dipahami dengan banyak makna. Bertens mencoba menemukan arti kata etika dengan menelusuri perkembangan kata etika.[4] Secara etimologi kata etika berarti ilmu tentang  kebiasaan atau ilmu tentang kebiasaan atau ilmu tentang tata aturan. Dalam perkembangannya seperti yang terlihat dari perkembangan definisi kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan penggunaan kata etika secara umum, Bertens memaknai kata etika sebagai:
1.       Nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah laku nya.
2.       Kumpulan asas atau nilai moral.
3.       Ilmu tentang yang baik atau  butuk.
Etika dianggap sebagai ilmu ketika nilai, norma, atau kumpulan asas yang diterima oleh masyarakat menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian yang sistematis dan metodis. Sebagai ilmu, terdapat perbedaan tradisi antara gereja Katolik dan gereja protestesan. Katolik seringkali lebih menggunakan kata filsafat moral sementara protestan lebih serint menggunakan kata etika.

Berdasarkan penelusuran kata etika dapat disimpulkan bahwa etika sebagai ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari atau mengkritisi nilai, norma, atau asas dari kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku manusia. Ketika kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang berlaku mulai dilihat sebagai penyelewengan dan pelanggaran terhadap kodrat dan mertabat manusia pada saat itulah kebiasaan dan norma-norma tersebut perlu dikiritisi. Hakikat etika adalah untuk menjaga agar manusia dalam relasinya dengan sesama hidup sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat. Nilai-nilai, norma, dan kumpulan asas haruslah memampukan manusia hidup sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat.

Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa pendekatan etika adalah pendekatan kritis, yang menuntut pertanggungjawaban dan menyingkapkan kerancuan.[5] Etika memeriksa dan menuntut pertanggungjawaban dari kebiasaan-kebiasaan dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah usaha untuk menjernihkan masalah moral.

Yang perlu diingat apapun pemahaman mengenai etika, baik sebagai nilai atau norma, kode etik, atau ilmu namun tujuan atau hakikatnya haruslah melindungi kodrat dan martabat manusia. [6] Hal ini tidak berarti bahwa etika adalah ilmu yang berpusat kepada manusia, etika juga memberikan perhatian kepada alam dan seluruh ciptaan. Kerusakan alam dan eksploitasi alam tentunya tidak terlepas dari masalah moral manusia. Di sisi lain ketika alam menjadi rusak manusia dengan sendirinya akan menanggung akibatnya.[7]



[1] Verne H. Flecter, Lihatlah Sang Manusia: Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar, Gunung Mulia: 2007, 25.
[2] Eka Darmaputra, Etika Sederhana untuk Semua, Gunung Mulia, 2013, 5.
[3] J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, Gunung Mula, 2004, 1.
[4] K. Bertens, Etika, Gunung Mulia, 1993, 4-7.
[5] Fransz Magnis-Suseno, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius: 1987, 18.
[6] Fletcer, Lihatlah Sang Manusia, 29.
[7] A. Sonny Keraf, Etika Lingkungan, Kompas: 2002, xii.

2 comments:

Unknown said...

Menyenangkan membaca materi yang lumayan rumit ternyata bisa jadi sederhana. Seru juga menemukan hal baru (bagi saya) seperti akar kata etika (ethos) yang dalam istilah kunonya berarti 'kandang.' Karena awam dengan hal ini, saya mencoba mencari arti yang lebih banyak lagi. Di Oxford Dictionary, hasilnya ada delapan kata yang berkaitan dengan ethics (a set of moral principles ...). Salah satu yang menarik perhatian adalah 'Puritan Ethic' yang berkembang di awal abad 20, sebuah kata benda yang berarti 'a belief in the value of self-discipline and hardwork..' Jika Puritan berkaitan dengan 'Protestan' maka pasti menarik untuk mengetahui etika seperti apakah itu dalam kaitannya dengan Kekristenan. Semoga bisa dibahas ya Kak dan ditunggu tulisan-tulisan menyenangkan lainnya.Salam.

Li_WeTH said...

Terima kasih k June... jadi ingin kembangkan tulisan ini... kecurigaan awal, tampaknya puritan ethic menerjemahkan etika juga dengan etos... ketika nilai-nilai etika sudah terinternalisasi dalam diri seseorang dan menjadi nilai yg menggerakkan kehidupan seseorang saat itulah etika sudah menjadi etos... ini kecurigaan awal, akan diselidiki lagi.. terima kasih banyak..