Binggung pilih gereja....????.....
Dimasa sekarang gereja sudah menjadi seperti rumah makan... tinggal dipilih, tergantung minat kita....
Bila dilihat dari liturgi kebaktian minggu kita tinggal pilih:
Mau yang pake musik klasik....
Mau yang pake musik rok...
Mau yang lengkap dengan dancer juga ada...
Dari sisi khotbah, ada banyak gaya....
Tersedia khotbah yang penuh dengan tafsiran teologi...
Ada yang penuh dengan homur... bisa membuat pendengar ketawa sampai puas...
Ada yang lama..... ada yang pendek....
Ada atau tidaknya mujizat... juga sering menjadi pertimbangan.....
Ada yang dapat berbahasa roh....
Ada yang manjur untuk penyembuhan..
Ada yang tidak bisa menyembuhkan...
Bahkan ada yang tidak percaya mujizat penyembuhan....
Perbedaan ini sejak dahulu menjadi salah satu sumber konflik antara sesama anggota gereja... “mencuri domba orang” adalah sebuah istilah yang sering terdengar. Isitilah ini juga sebenarnya membuktikan bahwa sering terjadi saling tuduh menuduh antara sesama anggota Tubuh Kristus. Pemuda dan remaja sering dilanda kebingungan... mau ke gereja yang satu tetapi merasa kaku karena tidak sesuai dengan tradisi selama ini.... mau tetap bertahan digereja yang satu... sering ngantuk kalau ikut ibadah....
Semua akhirnya bermuara pada satu pertanyaan, Gereja manakah yang benar....?
• Back to Bibble:
Eduard Schweizer dalam buku Church order in the New Testeament, memberikan gambaran bahwa bila kita melihat kepada bentuk atau model-model gereja dalam Perjanjian Baru kita akan menemukan berbagai model gereja
- Dalam Injil Matius adalah gereja yang menekankan ketaatan kepada hukum.
- Gereja dalam injil Lukas dan surat-surat Pastoral adalah gambaran gereja yang menekankan ajaran dari para rasul.
- Gereja dalam surat-surat Paulus cukup memberikan penekanan terhadap karunia-karunia roh,
- Sementara itu gereja dalam surat-surat Yohanes adalah gereja menekankan kepada peranan roh kudus sebagai bentuk protes terhadap gereja yang terlalu institusional.
Perbedaan pola pelayanan yang ada bukanlah hal yang dapat dipertentangkan begitu saja atau dicari jalan untuk menyatukannya sebab setiap gereja dalam Perjanjian Baru mempunyai konteksnya tersendiri. Di tengah-tengah perbedaan bentuk pelayanan yang ada gereja dalam Perjanjian Baru mempunyai prinsip-prinsip dasar yang sama.
Salah satu kesadaran yang fundamental adalah adanya kesadaran bahwa Allah yang berinisiatif untuk mengumpulkan umat. Panggilan Allah adalah panggilan untuk menjadi saksi bagi hadirnya kerajaan Allah. Hal ini berarti segala sesuatu dalam gereja hendaklah dilakukan demi kemuliaan Tuhan... entah itu pujian... entah itu khotbah... entah itu mujizat... atau hukum gereja sekalipun semuanya dilakukan hanya demi kemuliaan nama Tuhan... bukan sekedar untuk menarik atau mempertahankan “domba”.
• Gereja dengan identitas yang utuh:
Perjanjian Baru memberikan bermacam-macam model gereja. Tidak hanya gereja yang sangat mementingkan masalah ajaran, tradisi dan institusional tetapi juga memberikan contoh gereja yang mementingkan karunia-karunia Roh Kudus demi pembaharuan rohani sebagai bentuk protes terhadap gereja yang terlalu kaku dengan tradisi dan lembaga. Keseimbangan tempat yang diberikan oleh Perjanjian Baru menunjukan kepada kita bahwa gereja adalah gereja yang seharusnya memiliki identitas yang utuh, baik sisi tradisi, ajaran maupun spiritual.
Gereja yang ditampilkan dalam Perjanjian Baru adalah gereja yang terbuka kepada pembaharuan sebab setiap zaman dan setiap tempat mempunyai kebutuhan tersendiri... Melihat dan megevaluasi diri adalah bagian penting dalam sebuah perubahan untuk menjadi gereja yang benar... melihat sisi mana dari identitas gereja yang selama ini terlupakan.... dan Apakah seluruh identitas gereja yang ada, telah kita persembahkan bagi kemuliaan nama Tuhan yang telah mengumpulkan kita.... ?