Friday, November 6, 2015

Kesadaran Etis



Manusia punya kesadaran etis
Menjadi Tua Itu Pasti Tetapi Menjadi Dewasa Itu pilihan, salah satu indikator dari kedewasaan adalah kemampuan untuk memilih pilihan etis. Setiap manusia mempunyai kesadaran dalam dirinya tentang apa yang benar dan apa yang salah, apa yang baik dan apa yang jahat, tentang apa yang tepat dan tidak tepat. Kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran etis. Sejak dari kecil seorang anak telah dididik untuk menghormati orang tua, mengucapkan terima kasih ketika menerima sesuatu atau tidak boleh memukul orang lain. Kesadaran etis ini dimiliki oleh setiap manusia dan memberdakan manusia dengan makluk ciptaan lainnya.

Manusia memiliki  kesadaran etis sebab manusia memiliki akal budi dan hati nurani. Akal budi memampukan manusia untuk berpikir dan memiliki pengertian termasuk mencari dan memahami kebenaran tentang dirinya dan lingkungan sekitarnya.[1] Selain akal budi, setiap orang juga memiliki hati nurani atau suara hati yang memampukan dia untuk memiliki kesadaran etis. Suara hati menjadi arah penentu kehidupan manusia untuk mengambil  keputusan dan sikap hidupnya.[2]

Sekalipun manusia dilahirkan dengan akal budi dan hati nurani sehingga memiliki kesadaran etis tetapi pada kenyataannya masih saja banyak contoh-contoh kejadian tidak bermoral terjadi. Kejahatan terjadi dimana-mana. Hal ini dimungkinkan karena kesadaran etis manusia itu bertumbuh tidak terjadi sekaligus.

Pertumbuhan Kesadaran etis[3]
Lawrence Kohlberg (1927-1988) seorang psikolog melakukan penelitian untuk mempelajari perkembangan kesadaran etis:
1.    Moralitas Pra Konvensional: Kenak-kanakan
Pada tahap ini faktor utama yang mempengaruhi seseorang melakukan tindakan etis atau mengambil keputusan untuk melakukan perbuatan baik adalah faktor dari luar. Konsekuensi apa yang akan dia dapat ketika melakukan perbuatan baik tersebut. Pada tahap ini terdapat dua jenjang.[4] Jenjang pertama, kesadaran etis tumbuh karena adanya desakan atau tekanan dari luar. Seseorang berbuat baik dan benar bukan karena kesadaran tetapi karena takut dimarahi atau diberi hukuman.  Contohnya seorang anak tidak mengucapkan kata kotor karena takut dimarahi oleh orang tuanya dan bukan karena itu adalah perbuatan yang merendahkan orang lain. Sekalipun ini adalah tahap kenak-kanakan namun sebagai orang dewasa terkadang kita masih berada dalam tahap ini.  Contohnya seorang yang menggunakan helm karena takut ditilang oleh Polisi dan bukan demi keselamatan dirinya.  Aturan dituruti  tanpa menyadari makna dan tujuan dari aturan tersebut.

Jenjang kedua dari tahap ini adalah keadaan dimana seorang berbuat baik atau benar sejauh tindakan itu membantu dirinya untuk mendapatkan tujuan atau keuntungan pribadi. Contohnya seseorang menahan diri dari korupsi karena jumlahnya tidak terlalu besar tetapi jika jumlahnya lebih besar ia akan bersedia untuk melakukan korupsi. Seorang yang berjuang melawan pertambangan karena itu pertembangan itu merugikan dirinya, jika tambang itu menguntungkan dirinya belum tentu ia mau berjuang untuk melawan pertambangan. Pada tahap ini telah ada proses untuk mempertimbangkan sebuah tindakan baik atau benar,  sayangnya pertimbangan utama adalah pertimbangan keuntungan diri sendiri.

2.    Moralitas Konvensional: Orangtua
Pada tahap ini seorang telah memiliki keinginan untuk menjadi orang yang baik dari dalam dirinya. Namun otoritas yang paling berpengaruh adalah komunitas. Sebagai anggota yang baik seorang harus mengikuti aturan yang berlaku dalam komunitas tersebut. Tahap ini juga terdapat dua jenjang. Jenjang pertama pada tahap ini seseorang sudah mulai punya kesadaran untuk berusaha menjadi orang yang berkelakuan benar dan baik dengan memenuhi harapan kelompok akrab yang terdekat dengan dirinya seperti keluarga, sekolah minggu, dan teman bermain.

Aturan-aturan sudah dibuat buat oleh kelompok dan anggota hanya bertugas untuk mengikutinya walaupun tidak menyenangkan. Seseorang taat kepada aturan karena takut di asingkan oleh kelompoknya. Contohnya kita rajin pergi beribadah ke gereja agar dibilang orang yang rajin beribdah oleh keluarga dan tetangga. Sudah ada kesadaran bahwa kita harus menjadi seorang yang taat beragama dan karena itulah harus rajin ke gereja. Jika tidak, seseorang dapat diguncingkan oleh komunitas.

Tahap kedua, semakin seseorang bertumbuh semakin banyak berkenalan dengan kelompok dan komunitas seperti komunitas yang lebih luas seperti komunitas berbeda agama, berbeda suku, dan Negara. Setiap kelompok dan komunitas memiliki aturannya sendiri dan seringkali terjadi benturan kepentingan. Pada titik ini seorang mulai harus memilih kepada komunitas manakah ia akan memilih untuk setia. Seseorang mulai belajar untuk menghargai nilai-nilai yang universal dibandingkan keuntungan dan kepentingan pribadi.  Bahkan nilai-nilai yang berlaku dikelompok kecil mulai dikiritisi. Berbuat baik dilakukan kepada semua orang karena semua orang manusia dan bukan hanya kepada kelompok sendiri.

3.    Moralitas  Purna-Konvensional: Dewasa
 Pada tahap ini kesadaran etis seseorang tidak lagi tergantung pada faktor-faktor dari luar tetapi berasal dari dirinya sendiri. Bukan karena takut atau demi keuntungan diri, namun karena ia sadar bahwa ada aturan, norma yang universal. Kepentingan sendiri dan kepentingan kelompok mampu tekan demi kepentingan universal bersama. Tahap ini juga dibagi dalam 2 jenjang.
Pertama, jenjang dimana seseorang telah sadar bahwa hukuman dan aturan adalah kesepakatan bersama dan karena itu harus dijalani bersama demi kebaikan bersama. Hukum atau norma tersebut perlu terus dikritisi dengan akal untuk melihat apakah hukum tersebut masih berfungsi atau tidak. Saat hukum tersebut sudah tidak berfungsi, hukum tersebut harus bersedia untuk direfisi. Oleh karena hukum adalah kesepatakan bersama maka peninjauan kembali hukum haruslah melalui kesepakatan bersama juga.
Jenjang ke dua, pada titik ini seseorang sudah sadar untuk pantang melawan hati nurani bahkan kalau seandainya dia harus melawan komunitas terdekat maupun komunitas yang lebih luas. Seorang telah hidup dengn visi dan misi sendiri, telah sadar untuk apa ia harus hidup. Semangat dan kekuatan itulah yang memanpukan dia untuk berjuang sendiri, berjalan memikul salib sendiri. Contoh yang bisa sebutkan disini adalah Yesus Kristus dan Mahadma Gandhi.








[1] Kasdin Sihotang, Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme, Kanisius: 43.
[2] Ibid, 46.
[3] Bertens menggunakan istilah Perkembangan Moral sebab mengikuti tradisi Katolik  sementara Eka Darmaputra menggunakan istilah Kesadaran Etis sebab mengikuti perkembangan Kristen Protestan.
[4] Bertens, Etika, 86.

Wednesday, November 4, 2015

Hakikat Etika




Ketika mendengar kata etika, tentunnya pemikiran kita tertuju pada aturan, norma, dan nilai-nilai. Karena berhubungan dengan aturan dan nilai-nilai pembahasan tentang etika seringkali tidak menjadi pokok bahasan yang diminati. Aturan dilihat sebagai pembatas ruang lingkup dan kreatifitas. Di sisi lain aturan dan norma sering dipakai untuk memperkokoh jabatan atau kekuasaan yang telah ada atau demi kepentingan pribadi. Apa sebenarnyan yang menjadi fungsi dari kumpulan aturan, norma, dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia, apakah hanya sebatas mengharmoniskan hidup manusia?

Istilah Etika
Kata etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos. Dalam arti yang paling  purba, ethos bermakna kandang tempat sapi atau kuda. Bagi binatang sapi atau kuda, kandang memberikan perlindungan dan keamanan.[1] Bangsa Yunani kuno adalah bangsa yang penuh dengan aturan dan adat istiadat. Adat istiadat tersebut dipahami selaras dengan kepercayaan agama. Adat dan kebiasaan yang berlaku tersebut kemudian melahirkan kemampuan pada diri seseorang untuk mengenal apa yang baik dan apa yang benar. Eka Darmaputra menjelaskan kesadaran ini sebagai kesadaran etis.[2] Dengan kesadaran etis ini diharapkan adat dan kebiasaan dapat berfungsi mendatangkan perlindungan dan keamanan manusia. Oleh karena itulah dalam perkembangan selanjutnya ethos dipakai untuk menunjuk pada aturan atau adat kebiasaan yang berlaku. Aristoteles seorang ahli filsafat Yunani menulis buku untuk anaknya tantang kaidah-kaidah dan perbuatan manusia, diberi judul Ethika Nikomacheia.[3]

Dalam perkembangan selanjutna terutama sejak abad ke 5 sM muncul aliran filsafat yang mulai mempertanyakan adat istiadat dan kebiasaan tersebut. Bagi para filsuf terkadang adat kebiasaan tersebut kurang rasional dan universal. Apa yang dianggap normal dan menjadi kebiasaan disuatu komunitas dapat saja dipahami berbeda oleh komunitas yang lain. Sesuatu yang dianggap baik tidak dapat generalisasikan penerapannya.

Gerakan ini membuat adat kebiasaan yang ada mulai dipertanyakan dan diuji dengan nilai-nilai yang lebih lebih rasional dan universal. Kesadaran etis dan adat istiadat, kebiasaan tersebut dibahas secara sadar, disusun secara teratur dan sistimatis. Perkembangan ini kemudian membuat kata etika dipahami sebagai penilaian normative terhadap tabiat dan tingkah laku manusia atau studi mengenai norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia. Hakikat dari penilaian normative tersebut bertujuan untuk melindungi kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

Dengan berkembangnya waktu, hingga sekarang kata etika dipahami dengan banyak makna. Bertens mencoba menemukan arti kata etika dengan menelusuri perkembangan kata etika.[4] Secara etimologi kata etika berarti ilmu tentang  kebiasaan atau ilmu tentang kebiasaan atau ilmu tentang tata aturan. Dalam perkembangannya seperti yang terlihat dari perkembangan definisi kata etika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan penggunaan kata etika secara umum, Bertens memaknai kata etika sebagai:
1.       Nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur tingkah laku nya.
2.       Kumpulan asas atau nilai moral.
3.       Ilmu tentang yang baik atau  butuk.
Etika dianggap sebagai ilmu ketika nilai, norma, atau kumpulan asas yang diterima oleh masyarakat menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian yang sistematis dan metodis. Sebagai ilmu, terdapat perbedaan tradisi antara gereja Katolik dan gereja protestesan. Katolik seringkali lebih menggunakan kata filsafat moral sementara protestan lebih serint menggunakan kata etika.

Berdasarkan penelusuran kata etika dapat disimpulkan bahwa etika sebagai ilmu pengetahuan adalah ilmu yang mempelajari atau mengkritisi nilai, norma, atau asas dari kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku manusia. Ketika kebiasaan-kebiasaan atau norma-norma yang berlaku mulai dilihat sebagai penyelewengan dan pelanggaran terhadap kodrat dan mertabat manusia pada saat itulah kebiasaan dan norma-norma tersebut perlu dikiritisi. Hakikat etika adalah untuk menjaga agar manusia dalam relasinya dengan sesama hidup sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat. Nilai-nilai, norma, dan kumpulan asas haruslah memampukan manusia hidup sebagai manusia yang berharkat dan bermartabat.

Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa pendekatan etika adalah pendekatan kritis, yang menuntut pertanggungjawaban dan menyingkapkan kerancuan.[5] Etika memeriksa dan menuntut pertanggungjawaban dari kebiasaan-kebiasaan dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah usaha untuk menjernihkan masalah moral.

Yang perlu diingat apapun pemahaman mengenai etika, baik sebagai nilai atau norma, kode etik, atau ilmu namun tujuan atau hakikatnya haruslah melindungi kodrat dan martabat manusia. [6] Hal ini tidak berarti bahwa etika adalah ilmu yang berpusat kepada manusia, etika juga memberikan perhatian kepada alam dan seluruh ciptaan. Kerusakan alam dan eksploitasi alam tentunya tidak terlepas dari masalah moral manusia. Di sisi lain ketika alam menjadi rusak manusia dengan sendirinya akan menanggung akibatnya.[7]



[1] Verne H. Flecter, Lihatlah Sang Manusia: Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar, Gunung Mulia: 2007, 25.
[2] Eka Darmaputra, Etika Sederhana untuk Semua, Gunung Mulia, 2013, 5.
[3] J. Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, Gunung Mula, 2004, 1.
[4] K. Bertens, Etika, Gunung Mulia, 1993, 4-7.
[5] Fransz Magnis-Suseno, Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat Moral, Kanisius: 1987, 18.
[6] Fletcer, Lihatlah Sang Manusia, 29.
[7] A. Sonny Keraf, Etika Lingkungan, Kompas: 2002, xii.