Manusia punya kesadaran etis
Menjadi Tua
Itu Pasti Tetapi Menjadi Dewasa Itu pilihan, salah satu indikator dari
kedewasaan adalah kemampuan untuk memilih pilihan etis. Setiap manusia
mempunyai kesadaran dalam dirinya tentang apa yang benar dan apa yang salah,
apa yang baik dan apa yang jahat, tentang apa yang tepat dan tidak tepat.
Kesadaran inilah yang disebut sebagai kesadaran etis. Sejak dari kecil seorang
anak telah dididik untuk menghormati orang tua, mengucapkan terima kasih ketika
menerima sesuatu atau tidak boleh memukul orang lain. Kesadaran etis ini
dimiliki oleh setiap manusia dan memberdakan manusia dengan makluk ciptaan
lainnya.
Manusia memiliki kesadaran etis
sebab manusia memiliki akal budi dan hati nurani. Akal budi memampukan manusia
untuk berpikir dan memiliki pengertian termasuk mencari dan memahami kebenaran
tentang dirinya dan lingkungan sekitarnya.[1]
Selain akal budi, setiap orang juga memiliki hati nurani atau suara hati yang
memampukan dia untuk memiliki kesadaran etis. Suara hati menjadi arah penentu
kehidupan manusia untuk mengambil
keputusan dan sikap hidupnya.[2]
Sekalipun manusia dilahirkan dengan akal budi dan hati nurani sehingga
memiliki kesadaran etis tetapi pada kenyataannya masih saja banyak
contoh-contoh kejadian tidak bermoral terjadi. Kejahatan terjadi dimana-mana.
Hal ini dimungkinkan karena kesadaran etis manusia itu bertumbuh tidak terjadi
sekaligus.
Pertumbuhan Kesadaran etis[3]
Lawrence
Kohlberg (1927-1988) seorang psikolog melakukan penelitian untuk mempelajari
perkembangan kesadaran etis:
1. Moralitas Pra Konvensional: Kenak-kanakan
Pada tahap ini
faktor utama yang mempengaruhi seseorang melakukan tindakan etis atau mengambil
keputusan untuk melakukan perbuatan baik adalah faktor dari luar. Konsekuensi
apa yang akan dia dapat ketika melakukan perbuatan baik tersebut. Pada tahap
ini terdapat dua jenjang.[4] Jenjang pertama, kesadaran etis tumbuh
karena adanya desakan atau tekanan dari luar. Seseorang berbuat baik dan benar
bukan karena kesadaran tetapi karena takut dimarahi atau diberi hukuman. Contohnya seorang anak tidak mengucapkan kata
kotor karena takut dimarahi oleh orang tuanya dan bukan karena itu adalah
perbuatan yang merendahkan orang lain. Sekalipun ini adalah tahap kenak-kanakan
namun sebagai orang dewasa terkadang kita masih berada dalam tahap ini. Contohnya seorang yang menggunakan helm
karena takut ditilang oleh Polisi dan bukan demi keselamatan dirinya. Aturan dituruti tanpa menyadari makna dan tujuan dari aturan
tersebut.
Jenjang kedua
dari tahap ini adalah keadaan dimana seorang berbuat baik atau benar sejauh
tindakan itu membantu dirinya untuk mendapatkan tujuan atau keuntungan pribadi.
Contohnya seseorang menahan diri dari korupsi karena jumlahnya tidak terlalu
besar tetapi jika jumlahnya lebih besar ia akan bersedia untuk melakukan
korupsi. Seorang yang berjuang melawan pertambangan karena itu pertembangan itu
merugikan dirinya, jika tambang itu menguntungkan dirinya belum tentu ia mau
berjuang untuk melawan pertambangan. Pada tahap ini telah ada proses untuk
mempertimbangkan sebuah tindakan baik atau benar, sayangnya pertimbangan utama adalah pertimbangan
keuntungan diri sendiri.
2. Moralitas Konvensional: Orangtua
Pada tahap ini
seorang telah memiliki keinginan untuk menjadi orang yang baik dari dalam
dirinya. Namun otoritas yang paling berpengaruh adalah komunitas. Sebagai
anggota yang baik seorang harus mengikuti aturan yang berlaku dalam komunitas
tersebut. Tahap ini juga terdapat dua jenjang. Jenjang pertama pada tahap ini seseorang sudah mulai punya kesadaran untuk
berusaha menjadi orang yang berkelakuan benar dan baik dengan memenuhi harapan
kelompok akrab yang terdekat dengan dirinya seperti keluarga, sekolah minggu,
dan teman bermain.
Aturan-aturan
sudah dibuat buat oleh kelompok dan anggota hanya bertugas untuk mengikutinya
walaupun tidak menyenangkan. Seseorang taat kepada aturan karena takut di
asingkan oleh kelompoknya. Contohnya kita rajin pergi beribadah ke gereja agar
dibilang orang yang rajin beribdah oleh keluarga dan tetangga. Sudah ada
kesadaran bahwa kita harus menjadi seorang yang taat beragama dan karena itulah
harus rajin ke gereja. Jika tidak, seseorang dapat diguncingkan oleh komunitas.
Tahap kedua, semakin
seseorang bertumbuh semakin banyak berkenalan dengan kelompok dan komunitas
seperti komunitas yang lebih luas seperti komunitas berbeda agama, berbeda
suku, dan Negara. Setiap kelompok dan komunitas memiliki aturannya sendiri dan
seringkali terjadi benturan kepentingan. Pada titik ini seorang mulai harus
memilih kepada komunitas manakah ia akan memilih untuk setia. Seseorang mulai
belajar untuk menghargai nilai-nilai yang universal dibandingkan keuntungan dan
kepentingan pribadi. Bahkan nilai-nilai
yang berlaku dikelompok kecil mulai dikiritisi. Berbuat baik dilakukan kepada
semua orang karena semua orang manusia dan bukan hanya kepada kelompok sendiri.
3. Moralitas Purna-Konvensional:
Dewasa
Pada tahap ini kesadaran etis seseorang tidak
lagi tergantung pada faktor-faktor dari luar tetapi berasal dari dirinya
sendiri. Bukan karena takut atau demi keuntungan diri, namun karena ia sadar
bahwa ada aturan, norma yang universal. Kepentingan sendiri dan kepentingan
kelompok mampu tekan demi kepentingan universal bersama. Tahap ini juga dibagi
dalam 2 jenjang.
Pertama,
jenjang dimana seseorang telah sadar bahwa hukuman dan aturan adalah
kesepakatan bersama dan karena itu harus dijalani bersama demi kebaikan
bersama. Hukum atau norma tersebut perlu terus dikritisi dengan akal untuk
melihat apakah hukum tersebut masih berfungsi atau tidak. Saat hukum tersebut
sudah tidak berfungsi, hukum tersebut harus bersedia untuk direfisi. Oleh
karena hukum adalah kesepatakan bersama maka peninjauan kembali hukum haruslah
melalui kesepakatan bersama juga.
Jenjang ke
dua, pada titik ini seseorang sudah sadar untuk pantang melawan hati nurani
bahkan kalau seandainya dia harus melawan komunitas terdekat maupun komunitas
yang lebih luas. Seorang telah hidup dengn visi dan misi sendiri, telah sadar
untuk apa ia harus hidup. Semangat dan kekuatan itulah yang memanpukan dia
untuk berjuang sendiri, berjalan memikul salib sendiri. Contoh yang bisa
sebutkan disini adalah Yesus Kristus dan Mahadma Gandhi.
1 comment:
How To Win Money At Baccarat - 2021 Guide - Wurrione
In the casino world, it is common for 바카라 players to play online games such as 바카라 roulette, craps, หาเงินออนไลน์ or blackjack. Online casinos tend to accept players from
Post a Comment