Ketika mendengar kata etika, tentunnya pemikiran kita tertuju pada aturan, norma, dan nilai-nilai. Karena berhubungan dengan aturan dan nilai-nilai pembahasan tentang etika seringkali tidak menjadi pokok bahasan yang diminati. Aturan dilihat sebagai pembatas ruang lingkup dan kreatifitas. Di sisi lain aturan dan norma sering dipakai untuk memperkokoh jabatan atau kekuasaan yang telah ada atau demi kepentingan pribadi. Apa sebenarnyan yang menjadi fungsi dari kumpulan aturan, norma, dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia, apakah hanya sebatas mengharmoniskan hidup manusia?
Istilah Etika
Kata
etika berasal dari bahasa Yunani, Ethos. Dalam
arti yang paling purba, ethos bermakna kandang tempat sapi atau
kuda. Bagi binatang sapi atau kuda, kandang memberikan perlindungan dan
keamanan.[1]
Bangsa Yunani kuno adalah bangsa yang penuh dengan aturan dan adat istiadat.
Adat istiadat tersebut dipahami selaras dengan kepercayaan agama. Adat dan
kebiasaan yang berlaku tersebut kemudian melahirkan kemampuan pada diri
seseorang untuk mengenal apa yang baik dan apa yang benar. Eka Darmaputra
menjelaskan kesadaran ini sebagai kesadaran etis.[2]
Dengan kesadaran etis ini diharapkan adat dan kebiasaan dapat berfungsi
mendatangkan perlindungan dan keamanan manusia. Oleh karena itulah dalam
perkembangan selanjutnya ethos dipakai
untuk menunjuk pada aturan atau adat kebiasaan yang berlaku. Aristoteles
seorang ahli filsafat Yunani menulis buku untuk anaknya tantang kaidah-kaidah
dan perbuatan manusia, diberi judul Ethika
Nikomacheia.[3]
Dalam
perkembangan selanjutna terutama sejak abad ke 5 sM muncul aliran filsafat yang
mulai mempertanyakan adat istiadat dan kebiasaan tersebut. Bagi para filsuf
terkadang adat kebiasaan tersebut kurang rasional dan universal. Apa yang
dianggap normal dan menjadi kebiasaan disuatu komunitas dapat saja dipahami
berbeda oleh komunitas yang lain. Sesuatu yang dianggap baik tidak dapat
generalisasikan penerapannya.
Gerakan
ini membuat adat kebiasaan yang ada mulai dipertanyakan dan diuji dengan nilai-nilai
yang lebih lebih rasional dan universal. Kesadaran etis dan adat istiadat,
kebiasaan tersebut dibahas secara sadar, disusun secara teratur dan sistimatis.
Perkembangan ini kemudian membuat kata etika dipahami sebagai penilaian
normative terhadap tabiat dan tingkah laku manusia atau studi mengenai
norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia. Hakikat dari penilaian
normative tersebut bertujuan untuk melindungi kehidupan manusia dan alam
sekitarnya.
Dengan
berkembangnya waktu, hingga sekarang kata etika dipahami dengan banyak makna.
Bertens mencoba menemukan arti kata etika dengan menelusuri perkembangan kata
etika.[4]
Secara etimologi kata etika berarti ilmu tentang kebiasaan atau ilmu tentang kebiasaan atau
ilmu tentang tata aturan. Dalam perkembangannya seperti yang terlihat dari
perkembangan definisi kata etika dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia dan penggunaan kata etika secara umum, Bertens
memaknai kata etika sebagai:
1.
Nilai-nilai
atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau sekelompok orang dalam
mengatur tingkah laku nya.
2.
Kumpulan
asas atau nilai moral.
3.
Ilmu
tentang yang baik atau butuk.
Etika
dianggap sebagai ilmu ketika nilai, norma, atau kumpulan asas yang diterima
oleh masyarakat menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian yang sistematis
dan metodis. Sebagai ilmu, terdapat perbedaan tradisi antara gereja Katolik dan
gereja protestesan. Katolik seringkali lebih menggunakan kata filsafat moral
sementara protestan lebih serint menggunakan kata etika.
Berdasarkan
penelusuran kata etika dapat disimpulkan bahwa etika sebagai ilmu pengetahuan
adalah ilmu yang mempelajari atau mengkritisi nilai, norma, atau asas dari
kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku manusia. Ketika kebiasaan-kebiasaan atau
norma-norma yang berlaku mulai dilihat sebagai penyelewengan dan pelanggaran
terhadap kodrat dan mertabat manusia pada saat itulah kebiasaan dan norma-norma
tersebut perlu dikiritisi. Hakikat etika
adalah untuk menjaga agar manusia dalam relasinya dengan sesama hidup sebagai
manusia yang memiliki harkat dan martabat. Nilai-nilai, norma, dan kumpulan
asas haruslah memampukan manusia hidup sebagai manusia yang berharkat dan
bermartabat.
Franz
Magnis-Suseno menegaskan bahwa pendekatan etika adalah pendekatan kritis, yang
menuntut pertanggungjawaban dan menyingkapkan kerancuan.[5]
Etika memeriksa dan menuntut pertanggungjawaban dari kebiasaan-kebiasaan dan
pandangan-pandangan moral. Etika adalah usaha untuk menjernihkan masalah moral.
Yang
perlu diingat apapun pemahaman mengenai etika, baik sebagai nilai atau norma,
kode etik, atau ilmu namun tujuan atau hakikatnya haruslah melindungi kodrat
dan martabat manusia. [6]
Hal ini tidak berarti bahwa etika adalah ilmu yang berpusat kepada manusia,
etika juga memberikan perhatian kepada alam dan seluruh ciptaan. Kerusakan alam
dan eksploitasi alam tentunya tidak terlepas dari masalah moral manusia. Di
sisi lain ketika alam menjadi rusak manusia dengan sendirinya akan menanggung
akibatnya.[7]
[1] Verne H. Flecter, Lihatlah
Sang Manusia: Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar, Gunung Mulia:
2007, 25.

2 comments:
Menyenangkan membaca materi yang lumayan rumit ternyata bisa jadi sederhana. Seru juga menemukan hal baru (bagi saya) seperti akar kata etika (ethos) yang dalam istilah kunonya berarti 'kandang.' Karena awam dengan hal ini, saya mencoba mencari arti yang lebih banyak lagi. Di Oxford Dictionary, hasilnya ada delapan kata yang berkaitan dengan ethics (a set of moral principles ...). Salah satu yang menarik perhatian adalah 'Puritan Ethic' yang berkembang di awal abad 20, sebuah kata benda yang berarti 'a belief in the value of self-discipline and hardwork..' Jika Puritan berkaitan dengan 'Protestan' maka pasti menarik untuk mengetahui etika seperti apakah itu dalam kaitannya dengan Kekristenan. Semoga bisa dibahas ya Kak dan ditunggu tulisan-tulisan menyenangkan lainnya.Salam.
Terima kasih k June... jadi ingin kembangkan tulisan ini... kecurigaan awal, tampaknya puritan ethic menerjemahkan etika juga dengan etos... ketika nilai-nilai etika sudah terinternalisasi dalam diri seseorang dan menjadi nilai yg menggerakkan kehidupan seseorang saat itulah etika sudah menjadi etos... ini kecurigaan awal, akan diselidiki lagi.. terima kasih banyak..
Post a Comment